Sabtu, 09 Januari 2016

KISAH PELURU



Aku baru saja membeli sebuah rumah. Istriku tidak terlalu senang dengan keputusanku. Bukan karena pembelian rumah itu melainkan karena pemilihan rumah yang kubeli. Tentu saja kami sudah lama ingin punya rumah sendiri karena sudah dua belas tahun kami mengontrak rumah kecil yang selalu kebanjiran di musim penghujan. Sekarang uang tabunganku sudah mencukupi untuk membeli sebuah rumah. Makanya aku membeli rumah itu. Harganya pas dengan tabunganku. Aku membelinya dari seorang blasteran Indonesia Perancis yang sedang butuh uang cepat karena dia akan segera pindah ke rumah bapaknya di Paris. Harganya memang sedikit miring karena dia sedang dikejar waktu. Dia bukan pemilik asli rumah ini. Konon katanya rumah ini dibangun oleh seorang Belanda yang berpengaruh di daerah ini.
Rumah itu luas dengan sebuah pohon asem raksasa di halaman depan. Jendelanya besar-besar begitu juga dengan pintunya. Istriku mengira aku akan membeli rumah di komplek perumahan tapi entah kenapa rumah ini justru membuatku tertarik. 
“Rumah ini terlalu singup mas,” kata istriku dengan nada tak suka.
“Ah, itu kan cuma perasaanmu saja.”
“Rumahnya terlalu tua. Ini kan rumah jaman Belanda.”
“Terus kenapa?”
“Biasanya rumah macam begini...”
“Ada hantunya?” sahutku cepat.
“Banyak cerita serem tentang rumah-rumah tua.”
“Itu kan cuma cerita orang-orang aja. Kalau kita renovasi ulang rumah ini pasti suasananya akan lebih menyenangkan. Kamu nanti pasti akan suka.”
“Terserah mas aja.”
Istriku mulai luluh dan berusaha sedikit menyukai rumah itu. Aku mati-matian membuat rumah itu kelihatan baru dan segar dengan dekorasi yang cerah. Suasananya memang benar-benar beda dibanding saat aku melihatnya pertama kali. Rumah yang tampak kusam itu sekarang tidak kalah cantik dengan rumah-rumah di sekitarnya. Pohon asem yang semula membuat rumah itu nampak angker sekarang malah mempercantik rumah itu. Anakku, Ima, yang baru saja naik kelas lima juga langsung kerasan dengan rumah itu.
“Ayah, rumah ini seperti rumah yang ada di buku sejarahku.”
“Iya soalnya rumah ini sudah aja sejak jaman Belanda dulu.”
Mata Ima langsung berbinar, “Benarkah ayah? Jadi orang-orang Belanda itu pernah tinggal di sini?”
“Ya.”
“Wow. Keren.” Aku langsung tertawa dengan ekspresi Ima. Matanya yang besar itu segera penuh dengan cahaya. Ima memang anak pemberani. Dia tidak takut dengan rumah tua ini. Sebaliknya dia sangat terkesan. Tentu saja hal ini sangat bertolak belakang dengan istriku.
***
Ima paling semangat membantuku menata perabotan kami saat pindah di rumah itu. Suatu kali dia menggeret sebuah lemari besar bersamaku tak peduli tubuhnya yang kerempeng itu tidak sesuai dengan bobot lemari. napasnya ngos-ngosan, keringatnya bercucuran. Kami menggeret lemari itu terlalu mepet tembok hingga menggoresnya. Secuil semen terkelupas dan terjatuh di lantai. Ima melihat sesuatu di dinding yang terkelupas dan segera memanggil-manggilku dengan tak sabar.
“Ayah, ada sesuatu di sini. Cepat kemari.” Aku mendekati Ima dan melihat apa yang ditunjuknya. Ada sesuatu berkilat di tembok. Aku mencukil semen di sekitar benda berkilat itu untuk memastikan benda apa yang tertancap di sana. 
“Apa itu ayah?”
“Aku tidak yakin tapi sepertinya benda ini adalah sebuah peluru.”
“Peluru? Wow. Ada yang pernah dibunuh di sini?”
“Ayah tidak tahu. Mungkin saja.”
“Apa orang Belanda itu?”
“Entahlah.”
“Ini bener-bener keren, Yah.”
Setelah penemuan yang menurut Ima sangat mengesankan itu, dia memaksaku untuk tidak menutupi peluru yang tertancap di dinding itu dengan lemari. Akhirnya kami pindahkan lemari ke tempat lain. Saat istriku mengetahui hal itu raut mukanya berubah cemas.
“Perasaanku jadi nggak enak.”
“Jangan berlebihan. Itu cuma peluru.”
“Bukan cuma peluru. Apa kamu tidak berpikir mungkin saja ada kisah mengerikan di balik peluru itu.”
“Kalaupun iya kejadiannya kan di masa lalu. Nggak ada hubungannya dengan kita.”
“Kenapa nggak ditutup dengan lemari saja. Setiap melihatnya bulu kudukku meremang.”
“Jangan, Ma,” sahut Ima. “Lebih baik dibiarkan begitu. Nanti kalau teman-temanku maen ke sini aku bisa pamer.”
“Ah, Bapak anak sama aja,” keluh istriku. 
Jadi begitulah. Peluru itu tetap tertancap di dinding itu. Setiap melewatinya aku dan Ima selalu berhenti sejenak untuk mengamatinya. Kadang aku memergoki Ima tersenyum sendiri atau bahkan menggeleng-gelengkan kepala saat mengamati peluru itu. Pokoknya peluru itu menjadi pusat perhatian di rumah ini. Meski istriku berusaha menolaknya namun aku tahu dia selalu mencuri pandang ke arah peluru. Saat melintasinya istriku selalu berjalan terburu-buru dengan sudut mata sesekali melirik peluru itu. Aku yakin bahwa pikirannya tertular Ima, bahwa tanpa disadarinya istriku juga mereka-reka cerita tentang peluru itu dalam kepalanya.
Suatu hari Gendon, sahabat karibku membawa anaknya singgah di rumah baru kami. Anaknya seumuran Ima, namanya Khalisa. Mereka sudah bersahabat sejak berumur tiga tahun. Saat melihat Khalisa datang Ima langsung menggeret Khalisa menuju tempat dimana peluru itu menancap. Mata Khalisa langsung berbinar. Kedua anak itu kemudian terlibat pembicaraan seru. Mereka kemudian berandai-andai mengenai kisah dibalik peluru itu. Berimajinasi ala bocah kecil yang sedikit teracuni sinetron jaman sekarang.
“Barangkali saja orang Belanda itu dibunuh oleh pejuang Indonesia. Pelurunya mungkin saja tembus dan menancap di dinding,” kata Ima bersemangat.
“Atau bisa sebaliknya orang Indonesia yang dibunuh oleh orang Belanda, pemilik rumah ini dulu. Jaman dulu orang Indonesia kan dijadikan budak, dijadikan pembantu. Orang Belanda mungkin suka menyiksa orang Indonesia yang kerja di rumah ini,” tukas Khalisa tak kalah bersemangat.
“Ya...ya...ya bisa jadi begitu. Yang jelas... ada yang pernah mati di ruang ini,” kata Ima lagi. Kali ini dengan suara yang diseram-seramkan. Khalisa agak menciut. Suasana jadi sedikit tegang. Namun itu tak lama karena hanya dalam waktu semenit kemudian Ima tertawa terbahak-bahak. Memecah ketegangan. Istriku yang baru saja meletakkan minuman di meja menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kalian ini terlalu banyak nonton sinetron. Kan bisa saja orang yang pernah tinggal di tempat ini sedang membersihkan pistolnya lalu tanpa sengaja pistol yang berpeluru itu meletus dan nyasar ke tembok itu. Nggak ada yang celaka,” protes istriku.
“Ah mama tidak punya imajinasi. Asyik lho mereka-reka cerita seram apa dibalik peluru itu,” jawab Ima tak mau kalah. Aku dan Gendon saling pandang-pandangan. 
“Sudah main di luar aja,” usir istriku. Kedua bocah itu lalu keluar dengan masih berceloteh tentang peluru itu. 
“Sebenarnya kisah tentang peluru ini bisa dilacak,” kata Gendon
“Caranya?” tanya istriku.
“Kita bisa ke perpustakaan atau museum kota dan melacaknya di sana. Rumah ini kan sudah tua pasti sejarahnya pernah dibukukan atau ada dokumen tertentu entang rumah ini yang diarsipkan dengan begitu kita bisa tahu kisah dibalik peluru itu. Kalau kalian mau aku punya kenalan yang kerja di museum, aku bisa minta bantuannya.”
“Idemu menarik juga tapi terus terang saja aku suka melihat Ima berimajinasi. Setiap hari dia menceritakan kisah berbeda tentang peluru itu. Aku melihat dengan cara begini imajinasi Ima terlatih dengan baik. Siapa tahu jika besar nanti dia jadi penulis,” kataku.
“Ah nanti bukannya jadi penulis malah jadi pengkhayal ujung-ujungnya jadi pemimpi. Masa kemarin dia cerita bahwa peluru itu membunuh istri orang Belanda yang selingkuh dengan pejuang Indonesia. Setelah membunuh istrinya, orang Belanda itu gantung diri di pohon asem di halaman depan. Ima menceritakan ini padaku setelah menonton film horor. Ada-ada saja. Bahkan Ima sudah memberi nama orang Belanda itu.”
“Siapa?” tanya Gendon penuh ingin tahu.
“Kalau laki-laki dia menyebutnya Tuan Lucas kalau perempuan Nyonya Carolina.”
Aku dan Gendon tertawa bersamaan. Samar-samar di halaman depan aku mendengar Ima juga menyebut nama Lucas lalu disusul suara tawa mereka yang renyah. 
***
Seminggu sudah berlalu sejak kunjungan Gendon dan Khalisa. Ima masih saja menceritakan kisah yang selalu baru tentang peluru itu. Saat sarapan pagi Ima begitu bersemangat mendongengiku. Kami memang bangun awal pagi ini hingga tidak terburu-buru seperti biasanya dan Ima masih punya banyak waktu dengan kisahnya. Kali ini Ima mengambil setting waktu tahun 1939 saat Jepang akan masuk ke Indonesia. Tuan Lucas adalah seorang pedagang dan tuan tanah yang kaya. Saat mendengar kabar bahwa Jepang menang perang dan akan masuk ke Indonesia dia menjadi putus asa. Di dalam keputusasaannya dia harus menghadapi kenyataan bahwa anak kesayangannya, Carolina kawin lari dengan seorang pelajar Indonesia. Karena tak kuat menahan penderitaan, Tuan Lucas menembakkan pistol ke kepala dan pelurunya menembus sampai dinding. Aku sedikit terbengong dengan ceritanya. Aku baru tahu kalau pelajaran sejarahnya sudah sampai pada masa penjajahan Jepang. Cerita-cerita yang dikisahkan Ima semakin hari semakin berkembang sejalan dengan apa yang diterimanya di sekitarnya entah itu pelajaran sekolah ataupun tayangan-tayang televisi yang ditontonnya. 
“Ima apa kamu tidak ingin tahu kisah sebenarnya dibalik peluru itu?” tanyaku kemudian.
“Pengen sih pengen tapi aku lebih suka membuat cerita sendiri.”
“Om Gendon bilang dia berjanji akan mencarikan kebenaran cerita tentang peluru itu. Apa kamu ingin tahu?”
“Nggak ah. Aku lebih suka dengan ceritaku sendiri,” kata Ima dengan mantap. Dia mengambil tasnya dan mencium pipiku. Istriku sudah siap mengantarnya dengan sepeda motor. Jarak sekolah anakku memang agak jauh dari rumah baru kami. 
Sepuluh menit berlalu lalu handphone-ku berbunyi. Gendon menelponku.
“Kamu sudah berangkat, Pram?”
“Baru mau berangkat.”
“Aku sudah dapat kisah tentang peluru itu dari temanku yang kerja di museum. Apa Ima ingin mendengarnya?”
“Dia baru saja bilang padaku bahwa dia lebih suka cerita-cerita yang dibuatnya sendiri. Menurutku sih masih positif aja karena nyatanya Ima sekarang sangat antusias dengan sejarah.”
“Wah sayang sekali. Mungkinkah suatu hari nanti dia ingin mendengar kisah sesungguhnya dari peluru itu?”
“Mungkin saja. Sebenarnya aku sendiri sangat ingin tahu.” 
“Barangkali ini cuma kebetulan Pram tapi pemilik rumahmu dulu adalah seorang laki-laki Belanda bernama Lucas Janszoon.”
“Benarkah? Wow, tepat seperti yang diimajinasikan Ima. Apakah kisahnya salah satu dari cerita-cerita Ima?”
“Sebaiknya kamu cepat berangkat ke kantor. Aku akan menceritakan lebih banyak padamu.” Gendon menutup telepon. Aku merapikan dasi dan mengambil tas kerja. Sebelum berangkat aku mengamati peluru yang menancap di dinding itu agak lama. Sepertinya dia semakin berkilat dari hari ke hari. Mungkin karena posisi sinar matahari yang menerobos jendela makin bergeser menujunya. Atau mungkin saja kisah Ima yang selalu berbeda tiap hari membuatnya semakin bercahaya. Tandanya peluru terus diperhatikan. Aku tertegun lama. Jika kisah sebenarnya tentang peluru itu terungkap barangkali peluru itu takkan berkilat lagi. Takkan bersinar seperti sekarang. Mengungkap kisah itu berarti mengakhiri kisah itu sendiri. Takkan ada lagi imajinasi, tak ada lagi rekaan. Aku menghela napas panjang. Ima benar. Sepertinya aku tak perlu buru-buru ke kantor. Hasratku untuk mendengar kisah peluru itu langsung punah. Sepertinya aku harus minta maaf pada Gendon karena dia harus menyimpan kisah itu untuk dirinya sendiri.


7 komentar:

  1. Aku jdi menebak2, kalo cerita2 versi Ima itu jg mirip dan persis seperti yg akan diceritakan Gendon. Ini ceritanya bagus, ngalir, pokoknya suka bgt mah :D

    BalasHapus
  2. Jangan-jangan si Ima sudah ketemu sama tuan Lucas ya...hehe
    seruuu ceritanya mba Ruwi... :)

    BalasHapus
  3. Jangan-jangan Ima ditemui Lucas dalam mimpinya. Lalu menjelma menjadi imajinasinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh jangan-jangan Lucas sendiri yang membisiki Ima. Hih

      Hapus
  4. Menarik ceritanya, mbak. Sudah deg-degan sejak awal. Ternyata... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. cerpen lama mbak Dyah. Daripada berlumut kuposting saja.

      Hapus
  5. Kirain mau ke kanto, eh enggak

    BalasHapus