Senin, 06 Oktober 2014

KENAPA MENULIS NOVEL HOROR






Novel horor identik dengan ketakutan dan tragedi. Rasa takut sudah ada sejak manusia jatuh dalam dosa. Dan di sanalah awal dari sebuah tragedi. Dua hal ini sangat dekat dengan kehidupan. Jika kita memutuskan menulis horor itu artinya kita menulis tentang kehidupan ( sebab kadang hidup itu menakutkan dan berakhir tragis) meskipun pada akhirnya kita akan menulis begitu banyak kematian.

Selasa, 30 September 2014

TARIAN HUJAN (Bagian Kedua)




Keesokan paginya ibuku memberikan cadar kepada kami berdua supaya insiden senyum yang brutal itu tak terjadi lagi. Ibu takut para tetua desa memergoki kami seandainya kami tak bisa menahan diri. Mereka ini seperti hantu, muncul tiba-tiba pada saat tak terduga. Mereka juga selalu tahu segalanya. Sia-sia menyembunyikan apapun sebab mereka selalu bisa mengendusnya. Hidung mereka setajam penciuman anjing

Rabu, 24 September 2014

TARIAN HUJAN (bagian pertama)



Oleh Ruwi Meita
           
Namaku Sangre Sikula. Aku tinggal di sebuah desa yang melarang anak perempuan sepertiku menari atau tersenyum. Tak perlu kalian tahu dimana desaku berada. Lagipula kalian takkan mau tinggal di desaku selama kalian masih suka berseluncur di internet, bebas mengabadikan tulisan seliar apapun, menari ala Harlem Shake, atau mungkin sekedar berfoto di sebuah pantai berpasir putih saat sunset berhasil mengembangkan senyum kalian. Semua itu tak bisa kalian lakukan di sini jadi aku bisa dengan yakin berkata jika kalian takkan mungkin mau tinggal di tempat yang melarang kalian untuk melakukan semua hal yang kalian suka.