Novel horor identik dengan ketakutan dan tragedi.
Rasa takut sudah ada sejak manusia jatuh dalam dosa. Dan di sanalah awal dari
sebuah tragedi. Dua hal ini sangat dekat dengan kehidupan. Jika kita memutuskan
menulis horor itu artinya kita menulis tentang kehidupan ( sebab kadang hidup
itu menakutkan dan berakhir tragis) meskipun pada akhirnya kita akan menulis
begitu banyak kematian.
Senin, 06 Oktober 2014
Selasa, 30 September 2014
TARIAN HUJAN (Bagian Kedua)
Keesokan paginya
ibuku memberikan cadar kepada kami berdua supaya insiden senyum yang brutal itu
tak terjadi lagi. Ibu takut para tetua desa memergoki kami seandainya kami tak
bisa menahan diri. Mereka ini seperti hantu, muncul tiba-tiba pada saat tak
terduga. Mereka juga selalu tahu segalanya. Sia-sia menyembunyikan apapun sebab
mereka selalu bisa mengendusnya. Hidung mereka setajam penciuman anjing
Rabu, 24 September 2014
TARIAN HUJAN (bagian pertama)
Oleh Ruwi Meita
Namaku Sangre
Sikula. Aku tinggal di sebuah desa yang melarang anak perempuan sepertiku
menari atau tersenyum. Tak perlu kalian tahu dimana desaku berada. Lagipula
kalian takkan mau tinggal di desaku selama kalian masih suka berseluncur di
internet, bebas mengabadikan tulisan seliar apapun, menari ala Harlem Shake, atau
mungkin sekedar berfoto di sebuah pantai berpasir putih saat sunset berhasil
mengembangkan senyum kalian. Semua itu tak bisa kalian lakukan di sini jadi aku
bisa dengan yakin berkata jika kalian takkan mungkin mau tinggal di tempat yang
melarang kalian untuk melakukan semua hal yang kalian suka.
Langganan:
Postingan (Atom)


