Selasa, 30 September 2014

TARIAN HUJAN (Bagian Kedua)




Keesokan paginya ibuku memberikan cadar kepada kami berdua supaya insiden senyum yang brutal itu tak terjadi lagi. Ibu takut para tetua desa memergoki kami seandainya kami tak bisa menahan diri. Mereka ini seperti hantu, muncul tiba-tiba pada saat tak terduga. Mereka juga selalu tahu segalanya. Sia-sia menyembunyikan apapun sebab mereka selalu bisa mengendusnya. Hidung mereka setajam penciuman anjing

Rabu, 24 September 2014

TARIAN HUJAN (bagian pertama)



Oleh Ruwi Meita
           
Namaku Sangre Sikula. Aku tinggal di sebuah desa yang melarang anak perempuan sepertiku menari atau tersenyum. Tak perlu kalian tahu dimana desaku berada. Lagipula kalian takkan mau tinggal di desaku selama kalian masih suka berseluncur di internet, bebas mengabadikan tulisan seliar apapun, menari ala Harlem Shake, atau mungkin sekedar berfoto di sebuah pantai berpasir putih saat sunset berhasil mengembangkan senyum kalian. Semua itu tak bisa kalian lakukan di sini jadi aku bisa dengan yakin berkata jika kalian takkan mungkin mau tinggal di tempat yang melarang kalian untuk melakukan semua hal yang kalian suka.

Selasa, 23 September 2014

Dibalik Layar Book Trailer “Kamera Pengisap Jiwa"

Setelah berulangkali rencana syuting gagal akhirnya hari Rabu, tanggal 17 September, rencana syuting book trailer Kamera Pengisap Jiwa berhasil dilakukan. Jam 15.30 Nova, ponakan saya yang juga bertugas mengambil gambar sudah berada di rumah dengan memboncengkan Monik (pemeran Anabel). Demi menghayati perannya Monik memendekkan poninya agar terlihat seperti anak kecil. Monik sudah membawa perlengkapannya yaitu sebuah boneka Teddy Bear.