Kuala Lumpur, Malaysia
Victor menjejalkan pakaian-pakaiannya ke dalam
koper. Wajahnya kusut dan tegang. Julia, istrinya duduk di tepi ranjang dengan
wajah penuh airmata. Tangannya mencengkeram ujung sprei.
“Kenapa kamu tak lupakan saja dia? Kupikir
kamu bahagia bersamaku.”
“Diamlah Jul. Airmatamu tak bisa mencegahku.”
“Kumohon jangan pergi. Dia tidak mencintaimu!”
Darah Victor menggelegak, dengan cepat dia berhadapan dengan
istrinya dan mencengkeram bahunya.
“Kamu tidak tahu apa-apa tentang dia. Kamu juga tidak tahu apa-apa
tentang perasaanku. Kamu telah mencuri satu tahun umurku yang seharusnya untuk
bersamanya. Apa kamu tidak mengerti?“
“Victor, dia lari darimu. Itukah cinta?”
Victor terdiam. Julia semakin lantang bersuara
seakan menantang Victor,”ITU BUKAN CINTA! Jika dia mencintaimu dia pasti ada di
sisimu. Sementara aku mencintaimu dengan tulus, dalam sakit maupun sehat aku
mendampingimu. Apa itu tidak cukup?”
Mata Victor nyalang menusuk, ”Dia pasti punya alasan, untuk itu aku harus mencarinya.
Aku sudah memilih dan aku akan tetap pergi.”
“Victor aku mencintaimu. Dulu kamu bilang juga
mencintaiku.”
Victor semakin meradang. Dia menendang kursi
di sampingnya hingga membentur kaca rias. Pecahan kaca berhamburan. Julia mengkerut.
“Beraninya kamu bilang begitu! Kamu dan mama
telah menjerumuskan aku dalam kehidupan yang bukan pilihanku. Kamulah yang
membuatku berkata aku mencintaimu. Padahal hatiku tak pernah mencintaimu.
Kamulah yang membuat persepsi palsu itu. Kehidupan kita ini palsu.”
“Namun kasih sayangku tidak palsu. Kamu bisa
merasakannya setahun ini.”
Julia berdiri dan mencoba menyentuh pundak Victor
namun laki-laki itu mengibaskannya dengan kasar.
“Kumohon, pikirkanlah kembali,” pinta Julia.
“Jangan merengek. Tidak ada gunanya. Aku harus
pergi.”
Victor menutup kopernya. Langkahnya tergesa
dan serampangan. Kakinya sempat menabrak sebuah guci dan pecah berantakan. Julia
mengejarnya namun Victor tak peduli. Dia terus melangkah.
“Victor! Victor!” jerit Julia. Perempuan itu
mulai histeris. Victor menuruni tangga rumahnya dan di bawah sana seorang
perempuan tua berdiri dengan wajah tegang.
“Victor,” gumamnya terbata.
“Diam Ma! Sudah kubilang tidak ada gunanya
kalian membujukku. Aku harus pergi.”
“Mama, suruh Victor supaya jangan pergi!”
jerit Julia.
Perempuan tua itu tak mampu berkata-kata. Airmatanya meleleh. Victor tak peduli. Dia berlari menuju mobil yang diparkir di
halaman dan dalam sekejap dia menghilang. Suara ban mobilnya mencicit di
kejauhan.
Julia berusaha mengejar namun sia-sia.
Tubuhnya ambruk di halaman. Punggungnya terguncang hebat hingga kemudian diam.
Dia pingsan. Perempuan tua itu buru-buru memeluk Julia dan berteriak minta
tolong. Julia tak bergerak dalam pelukannya. Perempuan tua itu tercekat saat
mendapati rok Julia telah basah. Dia membutuhkan tiga detik untuk menyadari
bahwa rok itu rembes oleh darah.
“Ya Tuhan, Julia…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar