Hidup ada kalanya dihadapkan pada
angka-angka. Meski kita mati-matian mengelak dari angka-angka ini namun
kadang-kadang kita keceplosan juga dan bahkan ikut menilai. Saat seorang cewek
cantik lewat, layaknya pria yang normal sangatlah wajar jika dia bertanya pada
temannya. “Menurutmu dari 1-10 cewek itu kamu kasih nilai berapa?” Dan teman
pria itu menjawab dengan versinya sendiri sementara pria itu bisa berpendapat
dengan versinya sendiri. Seperti kata orang, cantik itu relatif.
Senin, 01 April 2013
Selasa, 19 Februari 2013
KETIKA SASI BERTANYA
cerpen ini pernah dimuat di majalah Femina edisi 4 tahun 2013. Selamat membaca.
“Kapan sih bunda dan bapak menikah? Tanggal berapa?” Tanya Sasi. Aku
yang semula menggosok bagian punggungnya dengan sabun antiseptik hampir saja
menjatuhkan sabunnya. Rasanya lidah ini tiba-tiba tumbuh tulang hingga kaku dan
membuatku bisu. Tak ada yang bisa kukeluarkan dari bibirku. Aku hanya bisa
mengguyur tubuh mungilnya dengan air dan berharap Sasi tidak mengejar
jawabannya.
Pagi Putih
Pagi itu kebaktian gereja pertama di awal tahun. Aku merasa
kota ini menjadi putih. Padahal sebenarnya tidak seputih di negeri salju. Hanya
saja hujan terus menerus turun. Lupa berhenti. Jalanan menjadi blur. Kelabu
nyaris putih. Mungkin aku terlalu berlebihan. Mungkin isi kepalaku yang putih
sehingga mengacaukan pandanganku. Atau mungkin karena suasana Natal masih kental. Yah, Natal identik dengan putih kan? Jika ada
merah dan hijau itu pasti gara-gara pengaruh dari desaigner baju Sinterklas.
Langganan:
Postingan (Atom)
