Minggu, 24 Januari 2016

GIVEAWAY NOVEL ALIAS


Bagi Anda yang mengalami akil balik antara tahun 1977-1992 mungkin Anda termasuk yang menyembunyikan novel stensilan karya Enny Arrow di bawah kasur Anda. Yah, novel-novel Enny Arrow yang penuh adegan ranjang itu adalah novel-novel yang bakalan lebih cepat lecek karena sering dibaca atau sering berpindah tangan. Siapa yang tidak penasaran dengan tema-tema seks? Jika sekarang wattpad dibanjiri dengan tulisan-tulisan “berlendir”, Enny Arrow bahkan sudah memulainya sejak tahun 1977.

Selasa, 12 Januari 2016

MERAJUT BENANG ATAU MERAJUT KATA



Saya baru senang merajut meski masih pemula. Ini karena serangan produksi rajut yang sedang populer baru-baru ini. Saya jadi penasaran bagaimana mereka bisa membuat produk secantik itu. Apa saya bisa membuatnya sendiri? Dulu almarhumah ibu saya pernah mengajari saya merajut sewaktu saya kecil namun saya sudah lupa. Sekarang tutorial merajut bertebaran di internet. Belajar merajut sendiri bukan hal yang sulit. Jadilah saya merajut. Ternyata saya menemukan banyak kesamaan antara merajut benang dan menulis. Pahamlah saya kenapa ada istilah “merajut kata”. Saya jadi membanding-bandingkannya dengan proses menulis. Berikut yang saya bisa temukan dalam perbandingan merajut benang dan merajut kata.

Sabtu, 09 Januari 2016

PROFIL RUWI MEITA



PROFIL RUWI MEITA

Penulis novel kelahiran Yogyakarta yang telah mengadaptasi 10 skenario layar lebar ke dalam novel. Selain novel adaptasi Ruwi Meita juga menulis 9 novel mandiri yaitu Rumah Lebah : Rahasia Wajah-Wajah Asing, The Sex On Chatting, The Apuila’s Child, Cruise Chronicle, Kaliluna :Luka di Salamanca, Kamera Pengisap Jiwa, Days Of Terror, Misteri Patung Garam, dan Alias. Novelnya Misteri Patung Garam telah diterjemahkan dalam bahasa Melayu di Malaysia. Selain itu dia juga dikenal sebagai penulis cerpen di berbagai media seperti HAI, GADIS, KAWANKU, FEMINA, dan koran Tempo. Cerpennya Pulung Gantung berhasil menang juara satu Kompetisi Tulis Nusantara dan Pemutar Aroma menang juara 3 sayembara Femina 2014. Sejak 2013 Ruwi Meita mulai melirik dunia skenario dan menulis skenario animasi Diva Series, Uwa and Friends, dan film pendek Through Her Eyes. Film pendek Sasi Takon yang diangkat dari cerpen Ketika Sasi Bertanya diputar di Jogja Asian Film Festival 2015. Impiannya adalah menulis skenario layar lebar dan menonton karyanya sendiri di bioskop sambil ngemil popcorn.

Kalian bisa ngobrol asyik, bertukar pikiran dengan Ruwi Meita di
- Fan Page Ruwi Meita
- Twitter @RuwiMeita25
- WA 085233662697
- ruwi_m@yahoo.com

KISAH PELURU



Aku baru saja membeli sebuah rumah. Istriku tidak terlalu senang dengan keputusanku. Bukan karena pembelian rumah itu melainkan karena pemilihan rumah yang kubeli. Tentu saja kami sudah lama ingin punya rumah sendiri karena sudah dua belas tahun kami mengontrak rumah kecil yang selalu kebanjiran di musim penghujan. Sekarang uang tabunganku sudah mencukupi untuk membeli sebuah rumah. Makanya aku membeli rumah itu. Harganya pas dengan tabunganku. Aku membelinya dari seorang blasteran Indonesia Perancis yang sedang butuh uang cepat karena dia akan segera pindah ke rumah bapaknya di Paris. Harganya memang sedikit miring karena dia sedang dikejar waktu. Dia bukan pemilik asli rumah ini. Konon katanya rumah ini dibangun oleh seorang Belanda yang berpengaruh di daerah ini.

Rabu, 06 Januari 2016

MENDESAIN NOVEL HOROR YANG FILMIS (2)




Sebagai lanjutan tulisan sebelumnya mengenai mendesain novel horor yang filmis ada baiknya kita membedah film untuk mengetahui struktur film tersebut. Saya mengambil contoh film Crimson Peak. Film ini tergolong baru karena baru dirilis bulan Oktober 2015 kemarin. Film ini disutradarai oleh Guillermo del Toro yang pernah sukses dengan film Pan’s Labyrinth (saya nangis nonton film ini). Saya sengaja menulis bagian dari film ini dengan detail karena cara ini salah satu latihan untuk membuat outline novel.

Selasa, 05 Januari 2016

MARI MENGINTIP "ALIAS"

 klik gambar dan langsung ke lapak

Novel ALIAS merupakan novel mandiri ke-9. Novel ini sudah dijual di toko buku online yaitu di Pengen Buku, Bukubukularis, Lestari Bookstore ( invite 5B09D549 | 081214141344), Republik Fiksi. Tanggal 1-6 Januari ada diskon khusus.

Novel Alias merupakan perpaduan misteri, horor, thriller dengan bumbu detektif yang fresh. Saya akan mengutip bagian dari novel Alias yang menurut saya cukup creepy.

Damar bangun dengan wajah pasi. Tubuhnya terasa lelah. Dia tak bisa tidur lebih dari dua jam padahal dia ingin tidur lebih lama. Selalu saja dia terbangun entah karena kantung kemihnya penuh atau rasa haus yang menyiksa. Beberapa saat kemudian, tangannya bergetar. Damar mengeluh pelan. Parkinson menyerang separuh tubuh sebelah kanan, menyebabkan seluruh tubuhnya ikut bergetar seperti bor listrik.
Damar menelan ludah. Rasa haus menyerang kerongkongannya. Pria itu menatap segelas air putih di meja. Ingin diteguknya air itu dengan cepat, tapi dia harus menunggu getaran di tangannya mereda. Dia tidak ingin memecahkan gelas itu, karena Nani, suster yang berjaga malam ini di panti jompo, pasti akan mengomelinya sepanjang malam. Perawat berumur 40 tahun itu harusnya belajar jatuh cinta agar mulutnya yang nyelekit itu berubah manis. Sayangnya, kran cinta di hatinya sudah berkarat. Dia belum pernah menikah dan sepertinya sudah melupakan niat itu.
Jika saja wajah Damar tidak sekaku ini, orang-orang pasti melihatnya sebagai laki-laki menarik, seperti dulu. Parkinson sudah merenggut seluruh ekspresi wajahnya. Damar kehilangan semua jurus memainkan wajah yang dulu bisa membuat wanita manapun tergila-gila padanya. Cukup lama Damar menunggu, tetapi getaran di tangannya malah semakin menghebat. Damar mengumpat pelan. Perasaan hausnya tak tertahankan. Tangan kiri Damar berusaha meraih gelas. Getaran di tangan kanannya masih mempersulitnya. Kali ini Damar berusaha mempererat genggaman pada gelas. Dia terperanjat saat tangan kanannya digenggam oleh sebuah tangan lain. Kepala Damar mendengak. 

Seseorang tersenyum padanya. Damar tak bisa melihat wajahnya. Terlalu gelap. Cahaya lampu tak bisa menembus wajahnya. Namun, dia tahu sosok itu sedang tersenyum. Sebuah senyum yang membuat dadanya yang renta mendedar.
“Damar, lama tak bersua.” Damar menelengkan kepalanya. Meski Damar tak bisa melihat wajahnya, dia merasa mengenal orang itu. Pada wajahnya yang gelap, ada bagian yang lebih gelap lagi, yaitu sepasang matanya. Sosok itu seperti bayangan hitam dengan gradasi warna gelap yang berbeda. “Kamu? Apa aku sedang mimpi?” “Tidak, kamu tidak sedang bermimpi.” Damar memicingkan matanya. Wajah sosok itu terlalu gelap. Sangat gelap. “Jadi, bagaimana rasanya menjadi tua dan tak berguna?” “Biasa saja,” jawab Damar dengan jengkel. Sosok itu membantu Damar mendekatkan gelas ke mulutnya. Dengan tergesa, Damar meminumnya. “Sabarlah! Tanganmu sudah tidak bergetar lagi.”
Damar terperanjat. Sosok itu benar. Belum pernah dia merasakan tubuhnya setenang ini. Rasanya sangat menakjubkan. Hidung Damar mencium aroma kayu manis. Setiap kali sosok itu bergerak, aromanya kian menyengat.
“Mumpung penyakitmu tidak kumat, mari kita membuat tali.” “Untuk apa?” “Untuk membantumu tidur seperti bayi. Bukankah itu yang kamu inginkan?” Damar mengangguk. “Aku bisa membantumu.” Orang itu menunjuk pada selembar selimut putih lalu mengacungkan gunting. Damar menerimanya dengan senang hati. Tangan tuanya bergerak ke sana kemari memotong selimut menjadi potongan-potongan memanjang. Tubuhnya telah berhenti bergetar dan dia menjadi sangat gembira karenanya. Dia baru menyadari betapa menggunting menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan saat ini. Tanpa disadarinya, sosok bayangan hitam yang semula berdiri di belakangnya pecah, berhamburan, dan memenuhi ruangan seperti asap pekat. Damar semakin membabi buta. Suara tawanya terdengar saat tangannya menyambung potongan sprei itu menjadi seutas tali yang panjang. Dia melakukannya dengan mudah dan itu membuatnya serasa muda. Damar berdiri dan membawa selimut yang sudah tersambung itu ke tangga. Asap hitam yang membuntutinya menyatu kembali, berubah menjadi bayangan gelap yang berdiri pada pegangan tangga. Damar menaikkan ujung tali selimut pada pegangan tangga sementara ujung lain pada lehernya sendiri. Pekerjaan ini terlalu mudah baginya, padahal biasanya untuk mengancingkan baju dia harus dibantu perawat panti. “Kamu yakin dengan cara begini aku bisa tidur seperti bayi?” “Ya, aku takkan membohongimu. Cobalah!” Damar tersenyum. Pria itu naik ke pegangan tangga. Lalu tanpa beban dan tanpa takut sedikitpun, dia melompat ke bawah. Terdengar suara leher yang patah. Sosok hitam itu pecah kembali, membentuk sulur asap yang menembus perut Damar lalu menghilang melewati ventilasi jendela.
Suster Nani yang baru saja kembali dari dapur sedang berjalan melintasi selasar yang remang. Dia berhenti pada saat sesuatu menyentuh kepalanya, kemudian ia mendongak. Sepasang kaki menyentuh dahinya. Kedua mata wanita itu terbelalak. Dia menjerit keras seakan suaranya hanya tersisa untuk malam ini saja.

Senin, 04 Januari 2016

MENDESAIN NOVEL HOROR YANG FILMIS (1)


Pernahkah kamu membaca sebuah novel dan setelah selesai membacanya kamu merasa puas dan berkata dalam hati,”Gila, aku seperti menonton sebuah film di dalam kepalaku.”? Novel semacam ini seakan hidup dan bernapas sehingga membuatmu enggan untuk melepaskannya. Bagaimana membuat novel seperti ini? Bagaimana menulis sesuatu yang bisa menjadi film di kepala pembaca?

Selasa, 06 Oktober 2015

PEMENANG BLOGTOUR MPGgoestoMALAYSIA




Menciptakan karakter tokoh yang tidak terlupakan adalah pekerjaan yang tidak mudah. Apalagi jika tokoh itu menjadi jargon dalam dunia nyata. Harry Potter, Detektif Conan, Sherlock Holmes, misalnya. Apa yang membuat mereka menjadi tokoh yang diidolakan? Apakah karena begitu keren dan sempurna? Tidak selalu. Justru kelemahan-kelemahan yang membuat mereka tidak bisa dilupakan.

Kamis, 01 Oktober 2015

MISTERI PATUNG GARAM Goes To Malaysia



                 
Setelah Misteri Patung Garam terbit saya berpikir untuk mengajukannya ke sebuah penerbit di Malaysia. Saya berencana mengajukannya tahun depan (2016) setelah semua pekerjaan saya kelar. Saya sudah tahu reputasi penerbit Fixi dari obrolan dengan beberapa teman penulis. Itulah sebabnya saya ingin mengajukan novel MPG karena sepertinya sesuai dengan buku-buku terbitan FIXI. Yah, siapa orangnya yang tidak ingin karyanya mendapat bonus? Difilmkan, diterjemahkan, atau diadaptasi ke bentuk kesenian lain adalah bonus dari sebuah karya penulisan. Akhirnya rencana saya ini saya simpan dalam doa-doa saya sembari menunggu waktu yang tepat.

Sabtu, 27 Juni 2015

PENGUMUMAN BLOGTOUR DAYS OF TERROR



Akhirnya puncak blogtour Days Of Terror telah berakhir. Saya mengucapkan terimakasih atas partisipasi teman-teman semua. Sepertinya saya akan membuat cerbung ini menjadi sebuah novel, tentunya tidak akan sesingkat ini karena masih banyak yang bisa dieksplor. Jadi karena itulah tidak akan saya beberkan endingnya.

Kamis, 18 Juni 2015

PUNCAK BLOGTOUR DAYS OF TERROR

Akhirnya kita tiba pada puncak blogtour Days Of Terror. Blogtour kali ini cukup menantang bagi saya sebab plot ceritanya ditentukan oleh peserta blogtour. Saya dituntut menulis dengan cepat untuk melanjutkan ceritanya. Saya sudah menulis cerita bersambung di tiga blog sebelumnya. Dan kali ini seharusnya cerita ini akan berakhir.

Selasa, 12 Mei 2015

PENGUMUMAN PEMENANG GIVEAWAY MISTERI PATUNG GARAM




Sebelum Kiri Lamari menebak siapa pembunuh Kiandra saya mengucapkan terimakasih sedalam-dalamnya kepada semua pembaca novel Misteri Patung Garam yang telah memberikan apresiasi yang luar biasa dan juga para peserta blog tour yang telah setia mengikuti dari awal sampai akhir. Peserta puncak blog tour Misteri Patung Garam lumayan banyak.

Senin, 04 Mei 2015

PUNCAK BLOGTOUR MISTERI PATUNG GARAM : Temukan Pembunuhnya





Nah, kali ini blogtour Misteri Patung Garam sudah mencapai puncaknya. Ingin tahu apa hadiahnya? Akan ada dua pemenang yang berhak mendapat.

Minggu, 03 Mei 2015

Apakah TWIST Wajib Hukumnya?




Di bulan Mei yang muram seorang pemuda memutuskan untuk membunuh kekasihnya gara-gara kekasihnya yang manis dan berkulit cokelat tua itu tidak mau ikut dengannya pindah di sebuah kota yang lebih sepi.

5 Elemen Membuat Twist Dalam Novel


Aristoteles menyebut istilah twist sebagai peripeteia. Itulah saat dimana sang tokoh menjerit “Tidakkk!!!” saat dia menghadapi sebuah kenyataan yang dipelintir dari sangkaan sebelumnya.

ISTRI LOT DAN MISTERI PATUNG GARAM


Pada zaman dahulu kala Abraham atawa Ibrahim menawar kepada Tuhan, sebuah hitung-hitungan untuk menyelamatkan kota Sodom dan Gomorah. Kenapa Abraham begitu kekeuh dengan tawar-menawar itu?

Jumat, 30 Januari 2015

RESENSI LOVE PUZZLE



Judul : Love Puzzle
Penulis : Eva Sri Rahayu
Penerbit : teen@noura
ISBN : 978-602-1606-04-9
Tebal : 286 hlm

BLURB
Rasi memberi senyuman, tetapi cowok itu malah tidak mengacuhkannya.

“Raja?" sapa Rasi.

“Sori?” Kening cowok itu berkerut.

“Kamu Raja, kan?” tanya Rasi lagi.

“Hmm, enggak usah sok kenal, deh,” balas Raja dingin.

Rasi melengkungkan bibirnya, cowok keren memang sering kena amnesia! “Enggak usah nyebelin gitu, deh. Kamu kan yang nanya-nanya soal fotografi di atap BIM kemarin? Kalau aku salah orang, biasa aja, deh.”

Raja merespon perkataannya dengan wajah kaget. Namun sedetik kemudian, ekspresi Raja kembali sinis. “Denger ya, aku enggak kenal kamu!” geram Raja penuh penekanan.

***

Sejak ketemu cowok itu, Rasi merasa level hatinya naik turun seperti roller coaster: kadang berbunga, kadang kesal setengah mati.
Sama seperti sikap Raja yang jago sulap: kadang baik, kadang nyebelin. Ada ya orang yang seperti itu? Rasi hanya belum tahu kalau di balik semua kejadian ada misteri tersimpan. Dan takdir menuntun Rasi masuk ke labirin yang entah ke mana berujung ….

RESENSI      

Jika potongan-potongan puzzle sudah selesai digabungkan maka akan membentuk satu gambaran yang utuh. Inilah yang diharapkan dalam novel ini. Sehingga saat saya selesai membacanya segala pertanyaan akan terjawab. Ada dua hubungan yang saya tangkap dalam novel ini yaitu
1.      Hubungan cinta lawan jenis
Kisah cinta Iskandar alias Raja alias Bimbim dengan Ayara yang begitu rapuh namun mendalam. Kerapuhan Ayara yang selalu sakit-sakitan dan Raja yang selalu mengutamakan kepentingan saudara kembarnya, Alex. Mereka berdua saling mencintai meski akhirnya diputus takdir. Lalu cinta Raya yang demikian rumit dengan Alex membuat Raya berada dalam posisi sulit apakah dia akan memilih cinta atau sahabat baik.

2.      Hubungan cinta dalam sebuah keluarga
Hubungan antar anggota keluarga layaknya sebuah payung yang kokoh dalam posisi yang semestinya. Jika payung itu dalam posisi terbalik justru akan membenamkan keluarga itu dalam air hujan dan memanggangnya dalam panas matahari. Raja dan Alex sepasang kembar yang diasuh dalam cinta kasih yang berbeda. Mereka pun tumbuh dengan pribadi yang berbeda. Raja yang lembut dan Alex yang garang. Sebuah tragedi mengubah peran itu. Salah satu dari mereka harus hidup dalam kepalsuan sebab orangtua mereka menolak kenyataan. Peran ayah yang harusnya tetap mempertahankan posisi payung itu pada semestinya terpaksa dikalahkan oleh histeria sang ibu sehingga mereka memilih hidup dalam kebohongan.

            Kunci potongan-potongan puzle ini berada di tangan Raya. Gadis penggemar fotografi inilah yang menghadapi papan puzle dan sedikit demi sedikit dialah yang berperan untuk menyatukannya menjadi gambaran yang utuh. Segala teka-teki yang dilontarkan di awal novel menjadikan Raya masuk dalam petualangan-petualangan mencari jawaban yang justru menjerumuskan dia dalam kenyataan. Raya jatuh cinta.
            Secara keseluruhan novel ini enak untuk dinikmati. Gaya penceritaan yang ringan. Alur maju mundur yang justru mempertajam teka-teki dalam novel ini. Meski begitu saya sedikit bingung dengan banyaknya nama alias Raja aka Iskandar aka Bim Bim. Saya tahu nama lain ini untuk menjebak pembaca agar tidak bisa langsung menebak siapa sesungguhnya Raja. Meski begitu walaupun tanpa nama alias sebenarnya sudah biasa ditebak siapa Raja siapa Alex. Saya harus membuka lembar sebelumnya untuk merunut lagi yang dimaksud apakah Raja atau Alex. Saya beri 3 dari 5 bintang.

RESENSI SPORA



JUDUL BUKU : SPORA
PENULIS : ALKADRI
PENERBIT : MOKA MEDIA
PENYUNTING : DYAH UTAMI
ISBN : 979-795-910-4


Kemungkinan apa yang menyebabkan  mayat dengan kepala telah menjadi serpihan? Apakah dia ditembak dengan shotgun dari jarak dekat? Atau mungkin ada hal lain yang lebih mengerikan yang membuat kepala itu meledak sendiri? Jawabannya sudah terletak pada judul novel ini : Spora.
            Adalah Alif yang selalu menemukan mayat dengan kepala meledak untuk pertama kali. Sayangnya, Alif bukan anak sekolah biasa. Dia punya rahasia yang jika orang tahu akan mebuat mereka berspekulasi jika Alif terlibat dengan semua pembunuhan itu.
            Pertama kali saya membaca buku horor dengan ketakutan yang tidak bersumber dari hantu saat membaca Species. Sudah lama saya membacanya yaitu pada tahun 1996. Menurut saya novel itu mencekam banget padahal monsternya bukan hantu melainkan alien yang bisa berubah menjadi perempuan cantik. Lalu saya menemukan Spora. Saya sudah penasaran sejak Moka Media menayangkan alternatif kaver novel ini. Dan benar saja kaver yang saya pilih menjadi kaver final novel karya Alkadri. Akhirnya saya mendapatkan novel ini dari hasil barter dengan teman di grup Komunitas Penimbun Buku (terimakasih Atri). Setelah Species, Spora membuat saya ingin bisa menulis novel dengan genre horor sci-fi.
            Saya menuntaskan buku ini hanya dengan sekali duduk. Buku ini sangat ringan penceritaannya sehingga saya bisa cepat membacanya, selain itu saya begitu penasaran ingin mempelajari teknik si penulis. Sayangnya saya harus kecewa melihat ilustrasi di dalamnya yang justru merusak suasana. Drawing ilustrasi itu seperti spoiler yang menghancurkan imajinasi saya.
            Dan entah kenapa saya lebih suka karakter Rina yang lebih maskulin daripada Alif. Mungkin Alif terlihat lembek karena masa lalunya yang sayangnya tidak digali sejak awal. Masa lalu itu tiba-tiba muncul di akhir sehingga hanya sekedar tempelan. Namun Alkadri cukup jitu mengawinkan alur cerita ini dengan dongeng dari Irlandia yang menurut saya justru mempertajam kehororan novel ini.
            Soal gaya penceritaan, Alkadri sudah menunjukkan dirinya sebagai penulis berpengalaman. Hanya saja saya melihat konflik novel ini terlalu ditahan. Saya pikir saya akan menjumpai dunia yang kacau balau. Semua orang jadi zombie. Ternyata tidak, konflik novel ini lingkupnya kecil dan sempit. Setelah membacanya ada satu pertanyaan yang terus mengganggu saya: kenapa spora yang efeknya mematikan itu begitu cerobohnya hanya disimpan di ruang KIR sekolah? Tidak adakah tempat yang lebih aman selain ruang KIR? Hal ini mengganjal sebab ternyata endingnya justru melemahkan proses penyimpanan spora itu. Mereka yang membawa spora ini adalah orang profesional namun kenapa begitu bodoh menyimpannya di ruang KIR? Ah, ruang KIR betapa kamu sungguh mengganggu saya.
            Saya memberi 3 dari 5 bintang untuk novel ini.

Senin, 26 Januari 2015

PEMUTAR AROMA



Oleh : Ruwi Meita
            Sudah sepuluh tahun aku tidak pernah bersepakat dengan musim dingin. Suhu yang anjlok di bulan Februari justru melonjakkan suhu tubuhku. Memerangkapku dalam flu berat. Tak ada yang kulakukan selain memandang museum Guggenheim dengan mata berkaca-kaca dan hidung meler dari jendela apartemen.

Rabu, 07 Januari 2015

RESENSI THE FAULT IN OUR STARS



Judul             : The Fault In Ours Stars
Penulis          : John Green
Penerjemah   : Ingrid Dwijani Nimpoeno
Penerbit        : Qanita
Terbit            : Cetakan VIII, September 2014
Tebal            : 421 halaman



Saat kanker dimanusiakan maka keseluruhan efek sampingnya merupakan lelucon yang satir.
            
 Augustes Waters dan Hazel Grace Lancesters memutuskan saling jatuh cinta pada waktu yang tidak tepat. Hazel Grace tadinya menderita kanker tiroid yang kemudian melebar ke paru-parunya. Dia harus memakai kanula yang berhubungan dengan tabung oksigen yang diberi nama Philip. Gadis berumur 16 tahun itu sangat depresi dengan penderitaan dan rasa sakitnya. Ibunya menyuruh Grace untuk pergi ke komunitas kelompok pendukung yang berkumpul secara rutin di ruang bawah tanah gereja Episcopal.
            Hazel menuruti ibunya dan di sana dia bertemu dengan Augustus yang memandanginya tanpa kedip. Bahkan sepulang dari pertemuan Augustus mengajaknya ke rumahnya untuk menonton V for Vendetta. Alasan Augustus adalah Hazel sangat mirip Nathalie Portman, aktris yang berperan di film itu. setelah menonton film mereka bertukar buku. Hazel memberikan buku yang dianggapnya buku penting setelah Alkitab yang berjudul Kemalangan Luar Biasa karya Peter Van Houten. Buku itu berisi kisah Anna yang juga seorang penderita kanker yang hidup bersama ibunya. Novel itu berakhir secara menggantung dengan asumsi Anna yang juga sebagai penutur dalam novel itu sudah mati.
            Hazel telah berulangkali mengirim surat kepada Peter dan menanyakan rasa penasarannya tentang kelanjutan novel itu seperti apakah akhirnya ibu Anna menikah? Apakah Anna mati? Bagaimana nasib hámster Anna? Sayangnya surat-surat Hazel tidak pernah dibalas. Di luar dugaan Augustus menemukan email asisten Peter dan emailnya dibalas. Dengan gembira Hazel mengirim surat pada asisten Peter. Emailnya akhirnya dibalas. Peter dengan senang hati menjawab pertanyaan Hazel jika Hazel berkenan pergi ke Amsterdam.
            Augustus ingin membantu Hazel dengan menggunakan jasa Yayasan Peri yaitu sebuah yayasan yang akan mengabulkan keinginan seseorang yang sakit parah. Akhirnya Augustus dan Hazel pergi ke Amsterdam dengan ditemani ibu Hazel. Sayangnya perjalanan itu berakhir sangat buruk. Hazel harus menerima kenyataan bahwa sesungguhnya Peter adalah seorang pemabuk yang sangat kasar. Meski Hazel sudah berada di Amsterdam Peter tetap menolak Hazel.
            Augustus yang setia berusaha menghibur Hazel. Di Amsterdam kembali Hazel menerima dua kenyataan yang pelik. Augustus menyatakan cintanya pada Hazel dan dia mengakui kanker yang dideritanya kambuh dan sudah menggerogoti seluruh tubuhnya.
            Saat membaca awal-awal novel ini saya menduga salah seorang antara Hazel dan Augustus pasti mati. Novel yang bercerita tentang kanker akan kehilangan nyawa jika tanpa diakhiri dengan kematian. Namun sebenarnya kematian bukan bagian terpenting dari novel ini. Sesungguhnya proses tokoh-tokohnya dalam menghadapi dan menyikapi kanker adalah sorotan utama dalam novel ini. John Green mampu mengubah kegarangan kanker menjadi lelucon-lelucon satir hingga pada akhirnya kanker terlihat seperti seorang yang hanya ingin berjuang untuk hidup sama halnya dengan penderitanya
 “Bahkan kanker pun sesungguhnya bukan seseorang yang jahat. Kanker hanya ingin hidup.” (330)
            Jatuh cinta bisa membuat seseorang melupakan rasa sakitnya dan berjuang untuk hidup. Augustus dan Hazel memutuskan untuk saling mencintai di tengah maut yang sewaktu-waktu menghadang. Namun justru di sinilah letak tragisnya. Novel ini sukses mengaduk perasaan sekaligus membuat tersenyum. Saya memberi 3,5 dari 4 bintang.